Hi quest ,  welcome 

Info

Ingin Penghasilan Tambahan, disini saya akan memperkenalkan Sophie Paris, Banyak sekali keuntungan untuk mendaftar member di Sophie Paris,
Keuntungannya yaitu :
- Daftar member Gratis.
- No ID atau No kartu member aktif seumur hidup, artinya tidak ada perpanjangan no ID,
- Diskon 30% Untuk semua produk
- Sophie paris juga menyediakan Bebas ongkos kirim,
- Jika Aktif maka akan ada transfer tiap bulannya.
>> Yuk yang belum daftar bisa daftar isi datanya Klik link di bawah :)

Pohon jabon, Investasi di sektor kehutanan

http://images.detik.com/content/2013/04/04/4/134726_jabondalam.jpg
Pohon jabon
     Pohon jabonInvestasi di sektor kehutanan semakin menarik, pohon jabon dan sengon adalah salah satu jenis yang sering menjadi pilihan investasi. Pohon jabon dan sengon mirip dengan pohon jati akan tetapi pohon ini mampu tumbuh lebih cepat. 


     Kayu pohon ini (pohon jabon) cocok sebagai bahan baku industri kayu seperti plywood, pulp, dan juga pembuatan kertas. Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan mengatakan penting untuk masyarakat saat ini untuk menanam kedua jenis pohon tersebut (Pohon jabon dan sengon).

     "Saya tanya ke industri pohon jabon kurang dan sengon juga kurang, sudah muda-muda sudah dijual karena kebutuhan tinggi. Eropa, Amerika, Jepang dan Timur Tengah menginginkan kayu dari pohon tersebut, oleh karena itu menanam pohon sangat menguntungkan, keliru jika tidak tanam pohon," ungkap Zulkifli saat ditemui di JCC Senayan Jakarta, Kamis (4/04/2013).

     Menurutnya pohon sengon dan jabon adalah dua pohon dengan tingkat pertumbuhan yang sangat cepat. Bahkan masyarakat mendapatkan keuntungan karena harga jual bibit tersebut murah dan harga panen yang mahal.

     "Sekarang berebut orang mau cari pohon itu. Padahal sengon dan jabon cepat tumbuh dalam waktu 5 tahun sudah bisa dipanen. Jadi tanam pohon bisa mendapatkan banyak rezeki. Murah cuma Rp 300 per bibit dan dijual setelah 5 tahun itu sudah Rp 300 ribu/batang," katanya.

     Ia pun menuturkan pihak kementeriannya akan terus mengembangkan kedua pohon itu dengan melakukan relasi dengan dua perguruan tinggi negeri seperti IPB dan UGM. Namun ia juga mengungkapkan akan memberikan perhatian yang sama terhadap 15 jenis pohon lain yang sama lakunya dengan sengon dan jabon.

     "Selain itu ada pohon galsa dan ada 15 jenis. Ini baru 2 jenis kita masih punya 15 jenis yang tumbuh cepat yang sama lakunya," tuturnya.

     "Jadi sekarang tugas kita butuh ilmu, teknologi, dan bibitnya dan cepat tanam untuk industri kertas, perkayuan dan mebel. Jadi agar pohon itu cepat tumbuh. Kita kembangkan itu bisa sendiri baik dengan IPB, UGM," tukasnya.


Pohon Jabon

     Berbicara masalah nilai harga kayu untuk bahan furnitur, jelas jati menempati urutan teratas. Menurut R. Rahardian, pengamat agrobisnis, kayu jati memiliki tingkatan dan kelasnya tersendiri. Kayu jati Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia. Dia menilai ada penguji khusus menilai kualitas sebuah kayu jati.

     Meski begitu, bisnis investasi agrobisnis banyak berkembang saat ini justru meninggalkan kayu jati sebagai bahan jualan. Rata-rata perusahaan investasi menawarkan penanaman pohon jabon atau sengon untuk ditawarkan kepada pemilik dana.----

     Bergesernya pilihan itu, menurut Rahardian, karena masa panen pohon jati butuh waktu lama, bisa sepuluh tahun lebih. Masa tunggu panen itu bisa membuat investor kelamaan menunggu. "Tapi sekarang kebutuhan kayu makin tinggi, pohon apapun laku. Lihat saja pohon kapuk ringan kaya gitu masih bisa dijual," kata Rahardian saat ditemui di kantornya, kawasan Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu. 

     Maka tidak mengherankan, tawaran investasi penanaman pohon, meski bukan jati akan tetap laku. Lihat saja pohon jabon atau sengon. Bagi Rahardian, sebelum 1980-an, pohon jabon dan sengon nyaris tidak memiliki harga sama sekali.

     Namun, hal itu berubah, sejak awal 1980-an kebutuhan kayu makin meningkat dari Korea Selatan dan Jepang sebagai bahan bangunan ringan. Maka tidak mengherankan hal itu membuat nilai jual dan minat masyarakat kepada kedua jenis kayu itu terbuka lebar. "Dua jenis kayu itu kualitasnya di bawah jati, tapi pohon sengon lebih bagus dari kayu jabon," ujar Rahardi.

     Rahardi masih tidak percaya dengan sistem investasi menawarkan keuntungan berlipat dari investasi penanaman jenis pohon itu. Selain tidak ada kepastian hukum, menurut dia, harga investasi setiap pohon jabon ditawarkan terlalu mahal. Rahardi menuturkan harga bibit jabon dijual petani saat ini masih berkisar di bawah lima ribuan.

     Bahkan, Rahadi merekomendasikan, jika ingin investasi lebih jelas kenapa tidak ikut serta program Perum Perhutani yang jelas-jelas butuh modal. Kalaupun alasan bisnisnya untuk mengurangi pemanasan global, Rahardi memprotes hal itu. Dia menilai, kalau ingin benar-benar tanam pohon untuk lingkungan kenapa harus jenis pohon memang untuk ditebang.

     "Kalau seperti itu niatnya terus apa bedanya dengan tanam singkong, panen, kemudian tanam lagi atau sebaliknya," kata Rahardian lebih lanjut. Dia menilai alasan ikut berpartisipasi mengurangi pemanasan global hanya alasan bisnis saja, bukan atas dasar pamrih.

     Pendapat berbeda dikemukakan Abdullah Syam, tim ahli PT. Global Media Nusantara (GMN). Pohon jabon ditawarkan pihaknya berbeda dengan jabon biasanya. Jabon dia kelola adalah jabon dari hasil penelitian cukup lama. Jenis jabon itu memiliki kualitas tahan terhadap serangan hama dan dijamin tidak bengkok.

     Mahalnya harga pohon jabon dia kelola wajar karena masuk dalam satu paket investasi: tanam, perawatan, hingga panen. Selain itu, menurut Abdullah, jenis pohon jabon itu akan terus dikembangkan. Dia mengatakan sudah berbicara dengan seorang peneliti lulusan Jerman yang juga paham tentang bagaimana mengembangkan pohon jabon.

     Mengenai sistem bisnis dijalankan PT. GMN, Abdullah juga staf ahli dari Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi di Kementerian Kehutanan mengaku tidak tahu begitu detail. Dia diangkat sebagai penasihat perusahaan untuk mengurusi bidang teknis penanganan jabon, mulai dari menyeleksi, menanam, merawat, hingga panen.

     "Sejak diminta sebagai penasihat dalam ke bisnis ini, saya bilang ke PT. GMN, bukan hal teknis yang memajukan bisnis, tapi kejujuran, kerja keras, dan transparansi akan membuat sukses," ujar Abdullah saat dihubungi merdeka.com kemarin melalui telepon selulernya. 

     Meski penanaman pertama baru berumur setahun lebih dan perusahaan memanen. Abdullah yakin hasilnya bakal banyak diminati. Bahkan saat ini, dia mengaku sudah ada satu pejabat dari Karawang memesan pohon telah ditanam. "Yang pasti perusahaan kayu lapis akan membutuhkan jenis kayu ini."----

http://note-why.blogspot.com/2013/06/pohon-jabon-investasi-di-sektor.html

Artikel lain yang mungkin anda cari,:

0 komentar:

Post a Comment